e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Latest Posts

Menyatukan Pengetahuan dengan Kebijaksanaan

Tadi malam sebelum jam dua belas malam mimpi berkunjung ke sebuah ashram (tempat belajar veda sekaligus kuil) yang sangat indah. Saya datang kesana bersama seorang teman berpakaian sembahyang serba putih. Saya merasa pernah ke ashram ini dulu tetapi dipecat karena suatu kesalahan. Saat mau masuk ke mandala utama ashram itu saya teman itu menasehati saya, 'Ketika kita memasuki ashram ini, sebaiknya bersujud dahulu di depan arca dewi saraswati, lalu di depan arca dewa ganesha. Karena sebenarnya beliau itu berpasangan. Ketika kita sembahyang selayaknya itu juga harus dilakukan, memuja beliau sebagai personifikasi sumber pengetahuan dan kebijaksanaan' ujarnya.
.
Lalu saya melihat arca dewi saraswati, kemudian bersujud. Lalu masuk ke dalam melihat arca dewa ganesha, kemudian bersujud, tetapi arca dewa ganeshanya kelihatan jauh. Tak lama berselang saya hendak memasuki ruangannya Guru ahli Veda di Ashram itu. Saya membawa ban mobil dikalungkan di leher. Begitu dekat dari ruangan guru, saya taruh ban mobil itu. Sedangkan teman saya lanjut berjalan menaiki tangga ke lantai dua ke tempat ruangan guru tersebut. Sedangkan saya diam, tak berani kesana karena malu. Tiba-tiba saya teringat dengan situs internet tentang agama yaitu situs Shanti Grya Tripod (dot) com.
.
Lalu tersadar dari mimpi berasa habis berjalan jauh, melelahkan. Lalu saya merenungkan makna mimpi tersebut. Mimpi itu bermakna ganda, pertama dimaknai secara mentah-mentah; bila sembahyang sebaiknya didahului dengan melakukan pemujaan kepada dewi Saraswati dan Dewa Ganesha karena beliau merupakan sumber pengetahuan (saraswati) dan sumber kebijaksanaan (ganesha).
.
Makna kedua, perjalanan itu melambangkan perjalanan sang roh menghadap bhatara Hyang Guru (simbol guru Veda). Diajarkan agar menyatukan pengetahuan dan kebijaksanaan. Saya dianggap jauh dari kebijaksanaan (simbol arca dewa ganesha terlihat jauh). Pengetahuan tanpa kebijaksanaan hal yang memalukan (simbol merasa malu). Kebijaksanaan tanpa pengetahuan bisa menimbulkan kesalahan (simbol merasa pernah dipecat karena bersalah). Oleh karena itulah hendaknya pengetahuan disatukan dengan kebijaksanaan agar memperoleh kedamaian (simbol situs Shanti Grya: Shanti artinya damai, Grya artinya rumah: 'Rumah kedamaian). Kenapa simbolnya mengambil situs internet? Hal ini saya maknai bahwa saya disuruh lebih bijaksana menggunakan media internet, terutama media sosial.
.
Sebelum mimpi seperti itu, waktu berdoa saya mohon ampunan dan bimbingan walaupun bimbingan itu dalam mimpi. Eh ternyata dikabulkan. Saya mohon ampunan saat berdoa karena kemarinnya sempat marah dalam hati pada bhatara Hyang Guru. 'Apa sih gunanya taat sembahyang, toh hidup saya datar-datar saja. Bahkan bernasib apes soal cinta?' Protes dalam hati. Dan protes itu saya buktikan dalam tindakan dengan tidak sembahyang. Lalu mimpi buruk dua kali, mimpi baik sekali dan satu lagi mimpi berupa petunjuk membongkar gedong dewa kembar (akan ditulis terpisah). Jadi ada 4 mimpi semalam.
.
Mimpi pertama, berada di rumah di karang dadak (aslinya rumah itu milik tanteku). Rumah itu bertingkat (aslinya tidak). Disana saya mau tidur bersama kakakku karena sudah malam. Di lantai dua ada dua orang gadis. Lalu datanglah hujan lebat. Meski hujan lebat, wanita itu tetap saja bermain-main. Tiba-tiba petir menyambar, wanita itu menghindar dan hampir saya disambar petir.
.
Tiba-tiba keadaan sudah berganti, saya berjalan kaki mau ke rumah malam-malam, dari Karang Dadak sampai ke rumah. Perjalanan sangat jauh, sekitar 3 km, jalan kaki. Saya ke rumah malam-malam karena lupa menghaturkan persembahan. Tiba di rumah, keadaan gelap gulita, listrik mati. Lalu menghaturkan canang sari. Kemudian menghidupkan kilo meteran karena curiga listriknya mati disana. Dan tersadar dari mimpi jam 12 malam kurang sedikit. Sebenarnya masih ada waktu untuk sembahyang tetapi saya ngekoh menghaturkan persembahan malam-malam. Lalu tidur lagi dan mimpi kedua:
.
Berada di denpasar mau kundangan pesta makan. Di tempat makan saya mendapatkan yang berisi ikan mujair dan sambal pedas (artinya ada orang yang tersinggung dan akan membuat hal buruk tetapi hal buruk itu akan dimatangkan dewa). Tiba-tiba keadaan sudah berada di rumah karang desa di desa saya. Merasa habis makan lalu saya minum air keran miliknya jero Mahendra (artinya diselamatkan oleh sesuunan/dewata ratu sakti maduwe). Usai minum berjalan ke arah timur dan masuk ke rumahku. Disana saya melihat mbok Jero Tonton (pertanda hadirnya dewa kembar, hendak memberitahu sesuatu). Di belakang saya sudah ada WDA, cewek yang pernah disayangi. Lalu kami berjalan ke arah timur bergandengan tangan, 'Sekarang kita biasakan saja, ya Wi. Toh bli juga udah gak sayang sama kamu. Kamu juga begitu, kan!' ujarku. Dia seperti sedih saya ngomong begitu.
.
Perjalanan berlanjut ke arah timur melewati rumah karang desa milik keluarganya. Saya memeluk dia. 'Sebenarnya kita ditakdirkan untuk berjodoh. Tinggi badan kita serasi, wajah hampir serupa. Tapi sekarang bli iklas kamu akan jadi milik orang lain karena suatu keadaan..' kata-kataku sendu. Berusaha untuk tegar mengucapkan kata-kata itu meski dalam hati masih menyimpan rasa sayang.
.
Entah bagaimana ceritanya, dia lepas dari pelukan dan WDA berubah jadi Mangku Gede Pulih (merujuk pada dukun suruhannya Gede M). Dia meninggalkan saya. Dan saya sudah tak pakai baju. Gara-gara itu tubuh saya bentol-bentol besar disengat nyamuk tak biasa. 'Behh.. ini nyamuk serangan ilmu hitam. Ilmu hitam dukun itu bisa mengenai saya pasti karena gak pakai baju bapak saya, guru' gumamku dalam hati ( simbol mendapat perlindungan dari bhatara hyang guru). Lalu saya pakai baju bapak saya, tiba-tiba bentol-bentolnya hilang, dan rasa gatal karena bentol-bentol dalam mimpi terasa sampai sadar. Dan beneran kulit saya merah-merah karena gatal.
.
Dalam kenyataan saya sering disengat nyamuk bisa bikin bentol-bentol tak biasa, berawal dari serangan ilmu hitam. Dulu biasa saja kalau disengat nyamuk, tetapi setelah punya musuh berilmu sengatan nyamuknya tak wajar. Saya sudah pernah membuktikan ketika disengat nyamuk tangan saya dibiarkan tanpa diberikan energi prana, jeg bentolnya panjang sebesar ulat dan banyak. Gatal sekali. Tetapi uniknya ilmu hitam itu takut pada telapak tangan (energi prana). Karena sering merasa aneh dengan sengatan nyamuk itu, saat berdoa pernah memohon petunjuk apa sebenarnya yang terjadi dengan saya. Lalu malamnya mimpi menanam kayu berjejer bersama bapak saya (guru) agar seseorang yang mau mengeruk tanah saya tidak berani melewati batas-batas tanah itu. Mimpi ini artinya Bhatara Hyang Guru memberikan perlindungan atau kerahayuan (simbol menanam kayu) agar seseorang tidak bisa seenaknya membikin penyakit (simbol mengeruk tanah) melampui batasannya sebagai manusia. Semenjak itu gak ada lagi sengatan nyamuk bisa bikin bentol-bentol tak wajar.

Tumben Memimpikan Teman Facebook

Biasanya kita memimpikan orang yang sudah pernah ditemui di dunia nyata, namun adakalanya seseorang yang hadir dalam mimpi adalah orang yang kita kenal di dunia maya. Bahkan ada orang yang memimpikan orang yang tidak dikenalnya, tetapi di kemudian hari orang itu nyata adanya, dengan kata lain lebih dulu bertemu dalam mimpi. Nah! Tadi malam saya tumben memimpikan teman facebook dari pulau Jawa, muslimah. Ceritanya begini:

Di dekat rumah tantenya saya bertemu om Tole di jalan, om dari pihak ibu, berboncengan dengan seseorang. Mereka baru pulang dari berjudi sambung ayam, katanya menang. Mereka pun berlalu, saya melanjutkan perjalanan ke sebuah pos. Disana akan diadakan pernikahan sepupu. Saya menghiasi pohon yang tumbuh di sekitat pos. Daun-daun pepohonan sebagian di bawahnya saya cat dengan cat warna merah agar pemandangan lebih indah dan arristik.

Tak lama berselang kedua pengantin sudah datang beserta rombongan. Ternyata pengantinnya teman facebook saya, Pidiyan**. Pernikahannya tentulah menggunakan adat Jawa, baik pakaiannya maupun proses akad nikahnya, termasuk pendetanya, seorang Romo Pendeta Hindu berpakaian khas adat Jawa.

Saat mereka sibuk dengan acara pernikahannya, saya sibuk menghaturkan persembahan canang sari di beberapa tempat yang seharusnya. Menjelang akhir proses pernikahan, Pidiyan** ingin tahu ramalan masa depan hubungannya, meski dia sendiri sudah tahu ilmu perjodohan dan juga sudah tahu mencari hari baik pernikahan yang diajarkan dalam keluarganya secara turun-temurun.

"Anakku, pada awal-awal pernikahanmu, suamimu akan sering berselingkuh karena tidak puas denganmu. Tetapi di kemudian hari akan hidup rukun." Ujar Romo pendeta setelah melihat perbintangan mereka.
Mendengar kata-kata itu dari Romo Pendeta, suaminya nyengir. Merasa ketahuan kalau dirinya play boy.
"Bagaimana mungkin hal itu terjadi, Romo Pendeta? Padahal kami sudah mempelajari ilmu perjodohan, dan tentunya kami juga sudah menikah pada hari yang baik."
"Tampaknya dalam hal ini, kekuatan takdir lebih berkuasa" jawab Romo Pendeta.

Saya ikut menyimak percakapan menarik itu, lalu memberitahu nasehat pada Pidi**ti, "Menurutmu, mana lebih baik bahagia dulu dibandingkan menderita terlebih dahulu?"
Belum dijawab keburu bangun.

Tersadar dari mimpi berasa bahwa mimpi itu sebuah sindiran, selain juga pertanda ada kaletehan di rumah tantenya (simbol pernikahan). Hal menarik bagi saya makna dari kronologi mimpinya. Mimpi ini merupakan nasehat Bhatara Kawitan (simbol om Tole karena omnya menjadi jero dasaran Bhatara Kawitan), sehingga Romo Pendeta itu adalah Bhatara Kawitan. Beliau membawa nasehat atau kabar baik (simbol menang berjudi).

Bhatara Kawitan memberitahu bahwa meski saya sudah tahu ilmu perjodohan dan juga mempelajari hari baik pernikahan, namun takdir lebih berkuasa atas apa yang saya alami, yaitu merasa menderita soal kehidupan asmara. Lalu diberikan bayangan atau pilihan, 'Mana lebih baik menderita dahulu atau bahagia lebih dulu kemudian menderita?' (Simbol saya memberi nasehat pada temannya, namun maksud sebenarnya nasehat itu ditunjukan ke saya).

Dalam ajaran Hindu terdapat dalil yang selaras dengan nasehat tersebut, dinyatakan bahwa kebahagiaan berakhir dengan penderitaan, dan penderitaan berakhir dengan kebahagiaan. Oleh karena itu, orang bijaksana tidak bersedih hati di kala duka, tidak bersenang-senan
g di kala bahagia. Dia yang tetap seimbang dalam kedua keadaan itu maka kebahagiaannya akan langgeng (sat cit ananda).

Mimpi di atas merupakan bimbingan dari Sesuhunan (dewata), melanjutkan mimpi sehari sebelumnya yang juga berupa bimbingan. Jawaban dari doa dua hari lalu. Oleh karena itulah dalam mimpi saya sibuk menghaturkan canang sari pada saat teman saya sibuk acara nikah.

Memang, dalam kehidupan kita takdir (nasib: karma masa lalu) dominan lebih berkuasa, namun sebagiannya juga merupakan karma masa kini. Menurut penelitian spiritual, 65 persen kehidupan kita saat ini ditentukan oleh kekuatan takdir/nasib, sisanya merupakan kehendak bebas. Kehendak bebas inilah yang kita gunakan untuk memperbaiki nasib buruk kita, dengan menerima apa yang menimpa kita, mesyukuri apa yang telah didapat, dan berusaha semaksimal mungkin. Dalam hal pernikahan, guna mengurangi hal-hal tak baik dalam mengarungi bahtera rumah tangga kita bisa mempelajari ilmu perjodohan (patemuan) agar tidak menikah dengan sembarang orang, juga menikah pada hari baik, mengenal pasangan dan keluarganya lebih jauh sebelum menikah, dan lain sebagainya. Agar kelak tidak menyesal, dan tidak menyalahkan Tuhan atas apa yang kita alami.

Inginnya Jadi Bos, Tapi Katanya Akan Jadi Pendeta

Beberapa waktu lalu saya iseng-iseng memasukan tanggal lahir pada situs primbon pada bagian Ramalan Phitagoras. Disitu dikatakan diakhir kehidupan saya akan menjadi pemimpin religius. Menariknya, tadi pagi dini hari bapak saya bilang, kelak saya akan menjadi Pendeta. Mimpi lengkapnya begini:

Sedang berada di timur laut rumah, sekira sekilo jauhnya. Disana saya melihat dua orang gadis sedang melukat (mandi suci), dilukat oleh dua orang sulinggih, orang suci. Kedua gadis menjerit berulang saat diberi puja mantra dan dimandikan air suci, seakan tidak kuat menerima energi air suci tersebut. Mumpung ada orang suci, saya juga ingin melukat. Lalu saya saya meminta restu ingin melukat juga, dan saya menanyakan berapa daksina/sesari (sedekah) yang boleh saya berikan. Katanya cuma 30rb. Lalu saya memberikan daksina itu pada sang Sulinggih.

Saat saya mau dilukat oleh sulinggih yang lebih muda, dua gadis tadi mohon pamit, 'Pak, saya pamit dumun, mau ke kampus' ujarnya. Dugaanku, epertinya sulinggih ini menjadi dosen di sebuah kampus. 'Nggih, Silakan!' Balasnya. Dari gerak-gerik sang Sulinggih seakan meremehkan kedua gadis tersebut, seakan dianggap tidak memiliki kemampuan spiritual. 'Beliau ini mampu gak mendeteksi energi yang saya miliki yang dianugerahi dewa' pikirku dalam hati. Saya merasa dulu pernah diberi anugerah dari dewa. Lalu saya diguyur pakai air suci. Kemudian sulinggih yang sudah tua melantunkan puja mantra pada air. Saya tak sengaja melihat 'burungnya' di balik pakaian putih transparannya karena tidak pakai celana dalam. 'Wajar anunya kelihatan karena seorang sulinggih tidak boleh pakai celana dalam' gumamku dalam hati. Lalu saya diguyur air suci untuk kedua kalinya. Ternyata air suci itu memiliki energi yang kuat hingga membuat tubuh saya terasa kaku, terutama di dada. Tiba-tiba saya sudah dipegang bapakku agar bisa bertahan melawan energi itu, tangan bapak saya ditempelkan di dada. 'Kamu dibeginikan (dilukat), agar kelak kamu bisa menjadi pendeta' ujarnya.

Saat tersadar dari mimpi dada saya terasa kaku, mungkin masih terbawa perasaan. Cukup kaget juga saat tersadar. Secara umum mimpi ini bermakna baik, namun terselip juga hal bermakna buruk yaitu melihat burung lelaki sang Sulinggih. Burung lelaki dalam bahasa Bali disebut 'Celak' sehingga dimaknai celaka, sedangkan Sulinggih simbol dewa, sehingga maknanya akan mendapat celaka dari dewa. Sedangkan melukat bermakna disucikan dari kekotoran batin. Bila digabungkan kemungkinan maknanya menjadi; bila tidak mensucikan diri maka akan mendapat celaka dari dewa.

Kata-kata terakhir bapak saya itu simbol sabda dari Bhatara Hyang Guru. Bisa jadi itu sebuah ramalan tentang masa depan saya. Entahlah. Bila dewa yang menghendakinya demikian, biarlah begitu.

Nonton Acara TV Berlanjut ke Alam Mimpi

Secara umum, masyarakat menganggap bahwa apabila sesuatu yang dilakukan di dunia nyata kemudian terbawa ke alam mimpi, hal itu dianggap bunga tidur. Tetapi apa yang saya alami tadi malam justeru di alam mimpi menemukan jawaban atas persoalan yang saya tonton di TV.

Dalam acara TV 'Justice Street' atau pengadilan jalanan (keadilan berdasar pada pandangan masyarakat), menghadirkan kasus tentang kapan waktu terbaik menyekolahkan anak, apakah pada usia tiga tahun ataukah lima tahun? Disitu pasangan suami-istri beradu argumen. Menurut istrinya bahwa anak sebaiknya sekolah pada usia tiga tahun agar si anak lebih cerdas, lebih cepat mengenal lingkungan, lebih banyak bermain di play group, dlsb. Sedangkan sang suami tidak sepakat menyekolahkan anaknya terlalu dini, lebih baik ibunya jadi guru di rumah, lagi pula soal mengenal lingkungan bisa dikenalkan bersama keluarga saat libur kerja, jalan-jalan, dlsb. Baginya, usia terbaik menyekolahkan anak adalah usia lima tahun.

Masyarakat yang diminta menjadi hakimnya pun saling bertentangan satu sama lain berdasar cara pandang mereka pribadi. Saya sendiri menganggap bahwa menyekolahkan anak terlalu dini itu hal kurang baik, alasannya bahwa dalam ajaran Veda dinyatakan guru pertama bagi sang anak adalah orang tuanya, khususnya ibunya. Sehingga pada usia emas 3-5 tahun sebaiknya dididik oleh ayah-bunda, bukankah ayah bunda era sekarang sudah pada lulus sarjana sedangkan guru play group belum tentu lulusan sarjana, bukankah dalam hal ini anak akan mendapat guru yang terbaik di rumah? Selain itu, menyekolahkan anak terlalu dini juga bisa menjadi 'beban mental' sang anak. Menyikapi hal itu saya sempat ragu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi akhirnya keraguan itu ditutupi mimpi yang saya alami.

Dalam mimpi itu saya berada di keramaian, seperti di sebuah restoran. Disana saya bertemu wanita yang ada di acara 'Justice Street'. Wanita itu berpakaian batik hijau, pakaiannya seperti seorang guru (di acara TV tidak begitu pakaiannya).
'Loh! Bukannya ibu orang yang ada di acara TV justice street semalam?' Tanyaku. Merasa kaget bisa bertemu di dunia nyata, bukan hanya nonton di TV.
'Iya. Memang kenapa?' Ujarnya sembari duduk di depan meja saya, berhadap-hadapan. Saya tertarik untuk meluruskan pandangan wanita ini.
'Begini lo, Bu. Seorang anak pada usia dini sebaiknya diajari oleh ibunya karena energi yang dipantulkan seorang ibu sangat baik bagi anaknya, sedangkan energi guru lainnya belum tentu cocok dengan sang anak' ujarku.

Sepertinya saya tidak bangun dari mimpi itu, ada mimpi lainnya yang berbeda maknanya. Saya baru sadar sempat mimpi seperti di atas setelah bangun paginya. Bagi saya mimpi di atas cukup menarik. Wanita yang hadir dalam mimpi bukanlah 'sosok' wanita yang ada dalam acara TV, melainkan sosok seorang guru (meski seolah-olah yang hadir adalah tokoh wanita dalam acara TV), sehingga sosok itu sebenarnya perwujudan Bhatara Hyang Guru menyamar sebagai guru wanita. Beliau bermaksud menjelaskan jawaban yang benar atas perdebatan dalam acara TV tersebut, meski dalam mimpi seolah-olah saya yang menjelaskan kepada guru wanita itu. Begitulah bahasa mimpi.

Penjelasan dalam mimpi itu sangat logis, dimana energi yang berupa 'energi prana' ataupun aura yang dipancarkan ayah-bunda akan berpengaruh besar terhadap perkembangan kecerdasan sang anak. Energi tersebut bisa juga berupa energi kasih sayang. Baik energi prana, maupun energi positif (emosi positif) berupa kasih sayang akan meghadirkan kenyamanan, ketentraman, dan kebahagian bagi sang anak, tentu hal ini akan sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan otak sang anak. Ketika pertumbuhan otak sangat baik maka kecerdasan anak akan jauh lebih mudah berkembang sebagai modal dasar berpikir. Menurut penelitian, kedekatan anak dengan orang tuanya yang cukup erat, terutama ayahnya, akan menjadikan anak lebih pintar dan cerdas. Dengan demikian, pendidikan usia dini 3-5 tahun itu sebaiknya dilakukan oleh ayah-bunda agar sang anak merasa cukup diperhatikan dan disayangi. Sesudah itu barulah pendidikan berikutnya diserahkan pada lembaga pendidikan di luar rumah.

Jodoh Bisa Dipilih

Beberapa hari yang lalu saya mimpi yang ada kaitannya dengan jodoh. Setelah direnungkan maknanya cukup menarik. Dalam mimpi itu saya berada di jalan dekat rumah. Saya akan berangkat ke Bangli dan Denpasar disuruh mengambil pakaian oleh bapak R (mantan calon wakil bupati). Baju pertama disuruh mengambilnya di depan rumahnya di Bangli, tapi baju itu belum ada disitu karena masih dibawa orang lain, nanti akan dibawakan ke rumahnya itu oleh temannya. Saya tinggal menunggunya disana. Kalau sudah berjumpa dengan orang itu nanti bisa dibawa pulang ke rumah. Selain baju itu, juga disuruh mengambil baju di rumahnya di Penatih, Denpasar. Samar-samar rumahnya itu ada di timur laut kos saya di Denpasar.

Setelah mendapat informasi yang cukup jelas, lalu saya berangkat bawa motor sesudah mengecek perlengkapan mengendara seperti STNK dan SIM. Baru berjalan tak sampai 100 meter motornya mengalami gangguan. Setelah dicek oli motornya ternyata tercampur air sehingga perjalanan motor tidak bagus. Akibatnya, saya merasa akan telat mengambil pakaian itu, apalagi perjalanan jauh. Saya berusaha memperbaiki.

Tak lama berselang, bapak R sudah datang. Dia bilang, mungkin pakaian yang di Bangli akan diambil orang lain bila saya terlambat berangkat, sedangkan yang di Denpasar boleh saja saya yang mengambil.

Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saya seakan membaca buku, di sisi lain seperti mendengar kata-kata bapak R. Bacaannya begini, 'Kamu boleh memilih pakaian itu, mau mengambilnya ataukah tidak. Demikian pulalah jodoh.'

Saya kemudian tersadar dari mimpi. Sempat menduga mimpi itu bermakna bahwa akan mendapat karunia dari dewa berupa perlindungan diri (pakaian). Bisa juga akan kehilangan karunia dari dewa akibat dosa yang saya lakukan (baju diambil orang).Tetapi setelah direnungkan makna itu cenderung berkaitan dengan jodoh sebagaimana kata-kata terakhir. Sebelum memaknai lebih jauh, kudu cari tahu makna simbol-simbolnya.

Bapak R simbol dewa (pejabat), motor kadang simbol tubuh ini. Oli bisa jadi simbol isi hati, stnk - sim kemungkinan simbol perbuatan. Bangli dan Denpasar simbol arah yaitu selatan, karena dari Kintamani tempat itu ada di selatan, sering disebut kelod, meskipun berdasarkan arah lokal tempat itu berada berlawanan arah.

Bila diterjemahkan bahasa mimpi itu menjadi, 'Dewa menyediakanmu dua jodoh. Kamu bisa menunggu dan memilih jodohmu, yaitu yang di depan rumah pada arah selatan atau yang di timur laut rumah (simbol di timur laut kos). Salah satunya ada yang tidak baik perjalanannya, itu bisa ditinggalkan.'

Mimpi di atas sepertinya jawaban dari doa saya sebelum tidur. Dimana saya berharap agar dewa menyatukan perasaanku dengan cewek yang ada di timur laut rumah, kalau bisa bahkan berharap dia bisa menjadi isteriku di kemudian hari (ngayal! Haha). Sedangkan untuk cewek yang selama ini menyakiti saya (rumahnya di selatan rumah, arahnya di depan pintu rumah saya, sekira 200 m) berharap agar cewek itu tidak menjadi bagian hidupku lagi, biarlah cewek itu diambil cowok lain meski pernah sangat mencintainya dan benih-benih cinta itu masih ada, bahkan kemarin saya menitikan air mata saat teringat dengan dia padahal sedang di perjalanan bawa motor. Antara kata hati dan pikiran bertolak-belakang. Hati selalu menginginkannya, tetapi pikiran selalu mengusirnya dari kenangan dan kehidupanku.

Nantangin Jin, Mengerikan Tapi Lucu

Malam hari saya sedang memasak air di dapur bersama guru, bapak saya. Tiba-tiba di luar pekarangan depan rumah dekat jalan melihat orang tinggi besar mau masuk ke rumah. Karena kaget, refleks saya mengambil ketel yang berisi air panas dipakai melempari orang tinggi itu. Ia kena dan langsung menghilang.
'Apa yang kamu lempar?'
'Tadi ada jin berdiri di depan rumah. Emangne guru gak lihat?' Tanyaku. Tapi ayahku diam.
Hari sudah malam lalu kami tidur. Saya tidur sendirian. Ketika sedang tidur, tiba-tiba dari belakang ada yang meraba tubuh saya pada bagian lengan. Mau menoleh tidak bisa, mau teriak juga tidak bisa. Semakin bergerak semakin kaku.
'Om namah shiwa ya, om namah shiwa ya,..' aku berdoa dalam hati karena sepertinya ada mahkluk gaib yang memegang lenganku, mungkin jin tadi. Akhirnya aku mulai bisa bergerak, lalu terbangun tetapi tidak bisa buka mata. Meski mata tertutup tetapi saya bisa melihat apa yang terjadi, melihat dengan mata ketiga, indera keenam. Ternyata ada jin yang menyihir saya dari luar rumah sehingga saya tidak bisa bergerak.
'Hai jin.. kalau kamu berani masuk kesini!' Tantangku dari pintu rumah. Lalu jin itu menghilang, tapi tiba-tiba ada kucing masuk ke kamar saya. Kucing itu langsung saling cakar dengan kucing saya. Kucing itu hampir mengalahkan kucing saya. Saya tendang kucing siluman itu sampai melayang keluar kamar.
Mata saya masih terpejam, lalu berusaha untuk membukanya namun tidak bisa. Kemudian saya buka paksa kelopak mata membukanya dengan kedua tangan. Dan akhirnya saya tersadar dari mimpi.
Rasanya capek banget mimpi seperti itu, dada terasa sakit, begitu juga leher. Lalu saya mendapat tenger dipuji orang. Sebelum mimpi seperti itu saya mendapat tenger maya rauh (mahkluk gaib jahat datang). Dan juga dapat tenger dibicarakan buruk oleh dua laki-laki. Dan dipikirkan baik oleh seorang wanita.
Saya mimpi buruk seperti itu gara-gara kontak batin dengan cewek, padahal cewek itu diproteksi oleh seorang dukun. Ternyata dukun itu tahu saya ganggu gadis itu melalui kekuatan pikiran. Itu sebabnya dukun itu mengirim jin (ilmu hitam) ke saya. Tapi karena hadirnya Bhatara Hyang Guru (simbol bapak saya), saya ra popo. Dan berhasil mengusir kekuatan ilmu hitam itu (simbol menendang kucing).
*Kadang saya mengagumi dukun yang sering menyerang saya itu meski sering bikin kesal. Habis hanya memikirkan cewek itu saya diketahui, lalu diserang.

Obrolan di Dunia Nyata Diterjemahkan ke Dalam Bahasa Mimpi

Suatu hari ada yang cerita bahwa dia pernah mimpi perang dengan bajak laut menggunakan senjata api laras panjang dan granat. Setelah sadar dari mimpi ternyata TVnya hidup dan ada film perang menggunakan senjata api dan granat. Ada juga yang mimpi jalan-jalan sambil mendengar lagu, ternyata setelah sadar dia mendengarkan lagu-lagu yang berbunyi di Hp-nya.
Inti dari penomena tersebut bahwa seseorang bisa mendengarkan dan mengalami apa yang terjadi di dunia nyata terbawa ke alam mimpi. Uniknya, semalam saya mendapat pengalaman menarik tentang hal seperti itu, dimana obrolan di dunia nyata sebagian terekam ke dalam mimpi, namun obrolan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa mimpi. Apa yang saya alami dengan cerita di atas seolah-olah sama, tetapi sebenarnya berbeda.
Pada kasus di atas hampir serupa kejadiannya antara di dunia nyata dengan di dunia mimpi. Sedangkan yang saya alami yaitu obrolan di dunia nyata dibawa ke alam mimpi diterjemahkan ke dalam bahasa mimpi. Dimana obrolan bapak saya dengan seseorang di dunia nyata dimasukan ke dalam mimpi diterjemahkan ke dalam bahasa mimpi. Dengan kata lain, mereka berbincang-binc
ang di dunia nyata sedangkan saya bermimpi. Antara perbincangan di dunia nyata dengan mimpi berbicara topik yang sama namun bahasa yang digunakan berbeda: bahasa mimpi vs bahasa realita, bahasa sehari-hari di dunia nyata.
.
Untuk memudahkan memahaminya saya akan ceritakan terlebih dulu yang terjadi di kenyataan (diketahui setelah bangun dari mimpi). Kejadiannya begini; sekitar jam 11 malam datanglah Wa D dengan anaknya bli S (sudah punya anak) ke rumah saya untuk konsultasi niskala kepada bapak saya. Kedatangannya untuk mengetahui kendala apa yang terjadi secara niskala sehingga menyebabkan penderitaan di keluarganya; sakit, kesulitan rejeki, pikiran tak tenang, dsb. Mereka pun berbincang-bincang di ruang tamu dengan bapak saya dan diteropong dengan indera keenam, sedangkan saya tidur di kamar sebelah.

Ternyata penyebabnya bahwa pekarangannya leteh (kotor secara niskala), sudah sejak lama tidak pernah dibuatkan banten penyapuh karang: ritual untuk membersihkan pekarangan. Hal ini idealnya dilakukan setahun sekali. Di rumahnya juga ada pemali: banyak benda-benda yang salah tempat di pekarangan. Hal inilah yang menimbulkan gegodaan di keluarganya. Sehingga bapak saya menyarankan untuk membuat banten penyapuh karang dan merapikan pekarangan agar tidak menaruh benda-benda sembarangan di pekarangan.
Tata letak pekarangannya juga amburadul, antara Wa D dan Bli S tinggal dalam satu pekarangan meski beda bangunan rumah (bangunan rumah lebih dari satu). Bli S bingung, pekarangannya antara dipisahkan dengan bapaknya (wa D) ataukah tetap tinggal dalam satu pekarangan? Bagusnya berdiri sendiri, berbeda pekarangan, dengan kata lain pekarangan dipisahkan. Anggaplah bli S jadi bertetangga dengan ayahnya (wa D) meski rumahnya berdekatan, yang awalnya jadi satu pekarangan kemudian berubah menjadi dua pekarangan.

Terkait dengan banten penyapuh karang, untuk saat ini Wa D dan Bli S belum siap untuk membuat banten penyapuh karang, selain karena faktor ekonomi juga karena cuntaka desa. Sehingga bapak saya menyarankan keluarganya untuk membuat banten Panglepit sebagai janji resmi kepada niskala bahwa akan membuat banten tersebut ketika sudah ada uang yang cukup. Banten panglepit ini bagaikan surat perjanjian resmi ada hitam di atas putih. Kita tidak bisa hanya janji-janji di mulut ataupun hanya berjanji dalam hati. Begitupun secara niskala kudu ada bukti perjanjian resmi dalam bentuk banten panglepit. Banten panglepit ini cukup sederhana. Selain itu, kendala yang dihadapinya, wa D dan cucunya (anaknya bli S) pernah sakit karena kalan Sang Wengi (kemarahan mahkluk gaib sebangsa jin) yang ada di barat rumahnya dekat sungai.

Setelah hampir selesai berbincang-bincang, wa D dan Bli S sudah mau pulang ke rumahnya, saya masuk ke ruang tamu karena bangun dari mimpi. Mimpinya begini:

Saya bersama bapak saya (biasa dipanggil guru) membawa motor melewati rumah Wa D dan Bli S pada malam hari. Keluarganya meminta bapakku untuk mampir ke rumahnya karena mau minta tolong, mau konsultasi niskala. Saya duduk di pekarangannya diluar pekarangan. Sedangkan bapak saya masuk ke rumahnya. Disana Wa D, Bli S, dan bapak saya berbincang-bincang. Tidak begitu terdengar apa yang dibicarakan, sepertinya masalah kaletehan karang. Entah beberapa menit berlalu, hampir selesai bincang-bincang, saya berjalan ke arah timur hendak memanggil bapak saya. Saya melihat rumahnya banyak ditumbuhi rerumputan pengganggu (gulma) dan banyak debu, seperti rumah tak terawat. Lalu keluarlah bli S dari ruangan tempat bincang-bincang tadi menemui saya.
'Bli S, kenapa rumahnya dibiarkan kotor seperti ini? Nah je disapu sesekali biar bersih rumahnya. Kalau begini rumahnya seperti rumah tak berpenghuni' ujarku sambil mengambil sapu lidi sembari menyapu halaman rumahnya agar bersih. Setelah usai di halaman rumah, saya lihat di belakang rumah banyak benda berserakan. Begitu juga di dalam ruangan. Di kolong dipannya saya melihat seekor kucing sakit dan seekor ayam sakit grubug, jalannya sempoyongan. Saya tunjuk-tunjuk pakai bambu panjang biar kucing dan ayamnya mau keluar dari kolong dipan. Soalnya kasihan hewannya sakit.
'Kalau tidak bisa sekarang membuat caru penyapuh karang, hal itu bisa ditunda, tapi harus membuat banten panglepit agar sakitnya bisa segera sembuh' ujar bapakku. (Kata-kata ini seperti berasal dari obrolan di dunia nyata terekam ke alam mimpi).

Lalu bapak saya keluar dari ruangan dan hendak pamitan. Tapi sepertinya bli S masih mau ada yang ditanyakan lagi. Lalu bli S bertanya, 'Bagaimana ya sebaiknya, apakah pekarangan Wa dengan bli dipisahkan pekarangannya ataukah dibiarkan satu pekarangan?' Tanyanya padaku, juga didengar bapakku.
'Menurut saya sebaiknya dipisahkan, bli. Karena keberuntungan seorang anak yang sudah menikah bisa dihalangi oleh ketidakberuntungan ayahnya' ujarku menjelaskannya. Dalam pikiran saya, bahwa seorang ayah yang tidak beruntung bisa menghapus atau menghilangkan keberuntungan anaknya yang sudah menikah bila si anak tinggal dalam satu pekarangan, apalagi satu rumah dengan ayahnya. Bersyukur kalau ayahnya beruntung (memiliki hoki yang bagus), sehingga bisa membuat anaknya turut serta mendapat keberuntungan. Bagaimana kalau hoki ayahnya buruk? Sang anak akan turut serta mendapat ketidakberuntungan.

Setelah merasa selesai bincang-bincang, kami pamitan untuk pulang, jalan kaki ke arah barat (tidak lagi bawa motor). Setelah sekira 100 meter dari rumahnya, saya ngobrol dengan bapak saya.
'Guru, jangan-jangan Wa D tidak buat banten Panglepit nanti, dikiranya bisa hanya janji-janji dalam hati untuk membuat banten caru pabersihan' ujarku.
'Gak boleh seperti itu, karena kalau perjanjian dengan niskala harus buat banten Panglepit.' Kata bapakku menjelaskan. Lalu saya teringat dengan bentuk banten panglepit berupa biu baan, sesantun, canang penganteb, berisi pis bolong 33 biji.

Kami pun sampai di tempat keramat dekat sungai, berhutan, jarang ada rumah. Meski malam hari kami bisa melihat yang ada di sekitarnya, seolah-olah dunia terang oleh cahaya rembulan. Di dekat tempat keramat itu saya melihat Palinggih Sang Wengi, berdiri tegak seolah menakutkan.
'Guru, ada mahkluk jadi-jadian' selorohku, bermaksud menakut-nakuti bapakku. Bapakku langsung lari tunggang langgang. Saya pun ikut lari cepat karena jadi sungguhan takut, takut ditinggal bapakku. Dan kami pun sudah sampai di dekat rumah keluarga lainnya. Namun dari belakang ada seekor anjing putih yang mengejar saya (bapak saya sudah tidak ada, entah kemana). Sebaliknya dari arah lain datang anjing saya. Ketika anjing itu hendak menerkam saya, anjing itu dihadang sama anjing saya. Mereka pun saling terkam. Mereka adu kekuatan dan akhirnya anjing tadi dikalahkan anjing saya sehingga saya terbebas dari serangan anjing tersebut. Tiba-tiba mendengar orang berbicara, namun tidak tahu siapa yang berbicara, 'Sakit karena kala-nya Sang Wengi' (kata-kata ini bermaksud menjelaskan dikejar anjing setelah lari dari tempat keramat rumah sang Wengi. Anjing simbol Kala).

Akhirnya saya tersadar dari mimpi dan kaget mendengar percakapan Wa D dengan bapak saya di ruang tamu, ternyata orang yang dimimpikan ada di rumah saya meski dalam mimpi saya berada di rumah Wa D. Saya tertawa dalam hati atas apa yang saya alami. Lalu saya tanya-tanya kembali apa yang sudah mereka obrolkan dan masalah apa yang dihadapi. Soalnya saya penasaran, apakah cocok dengan mimpi saya. Ternyata berbanding lurus dengan permasalahannya meski dalam mimpiku muncul dalam bentuk bahasa mimpi.

Bila bahasa mimpi di atas diterjemahkan ke dalam bahasa kesaharian menjadi seperti sebagaimana uraian saya di atas tersebut. Rumah ditumbuhi rerumputan maknanya pekarangan leteh, menyuruh membersihkan pekarangan artinya disuruh membuatkan banten penyapuh karang. Yang menyuruh Bhatara Hyang Guru (simbol bapak saya). Banyak benda berserakan di belakang rumah isyarat ada banyak pemali. Kucing sakit artinya kesulitan keuangan (kucing di bali dipanggil pis, pis artinya uang). Ayam simbol sang roh, ayam sakit artinya jiwa kita menderita. Hal itu terjadi akibat kaletehan pada pekarangan.

Soal opsi pemisahan pekarangan, kronologi mimpinya bercerita apa adanya. Hal itu tidak perlu ditafsirkan. Bagian obrolan tentang banten Panglepit itu bahasa Isyarat. Mimpi saya itu mencoba membaca pikiran Wa D. Sedangkan kronologi lari dari tempat keramat lalu dikejar anjing bermakna kala-nya Sang Wengi, sudah diterjemahkan pada bagian akhir mimpi.

Hal terpenting dari apa yang saya alami di atas bahwa Tuhan (bhatara Hyang Guru) mengajari saya memaknai mimpi, atau setidaknya membandingkan peristiwa dalam mimpi dengan apa yang terjadi sesungguhnya.

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts