e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat memutar bade/wadah saat ngaben) diikuti kakak saya. Disitu saya memikul watangan palsu (mayat buatan) dibantu bli Jero Wi. Lalu saya melantunkan wirama (nyanyian suci) Indra Wangsa. Katanya, memang begitu aturannya untuk mencari tulang manusia.

Setiba di dekat pintu kuburan, bli Jero Ar menyuruh saya 'memanjang'; melantunkan puja untuk Bhuta Kala (sebangsa setan). Bila tidak demikian, katanya kita bisa dimurka bahkan dimakan Bhuta Kala. 'Ih sang bhuta kala,.. ' seruku dengan nada panjang, saya lupa lengkapnya. Lalu saya mencangkul tanah di pintu kuburan tiga kali dekat pohon bambu. Bli jero Ar menyuruh saya karena dia takut melakukannya. 'Ternyata mengambil tulang manusia ada aturannya, tidak sembarangan' pikirku dalam hati.

Sampai di tengah kuburan saya menemukan lubang yang lebar. Disana saya melihat beberapa jenazah yang diawetkan, bahkan ada satu orang yang masih bergerak dibungkus plastik, mungkin masih hidup. Saya turun ke lubang itu bersama bapa Dewi, om saya. Lalu om saya memilih milih tulang manusia. Awalnya hendak mengambil tulang paha tetapi terlalu besar. Yang jadi diambil tulang kaki bagian bawah.

Kami lalu balik, dan tiba-tiba sudah berada di dekat rumah sepupu saya di sebelah selatan rumah saya. Disitu saya melihat pos ronda sederhana. Yang pulang hanya bertiga; saya, pa dewi, dan kakak saya. Di pos itu saya sudah melihat bapak saya (guru) duduk bersama guru Nas (om saya). Bapa dewi menyerahkan tulang manusia itu kepada bapak saya.

'Tulang siapa yang jadi kalian ambil?' Tanya bapakku.
'Tulangnya kumpi perinci' jawabnya.
'Oh, tidak kenapa, yang terpenting sudah satu leluhur' terangnya.
Lalu kami semua duduk bergerombol. Samar-samar bapak saya mengatakan bahwa tujuan mencari tulang manusia digunakan untuk merajah pekarangan (melukis gambar sakral sebagai perlindungan atau jimat). Bapak saya mengacungkan tulang itu ke dekat tubuh guru Nas, 'Kalau jero kena tersentuh tulang ini, pekakas apa saja yang dibawa akan hilang keampuhannya' ujar bapakku.

Cukup tersentak mimpi seram seperti itu. Berdasarkan hari mimpinya hal itu ada kaitannya dengan Sang Wengi yaitu sisa 3. Hal ini dipertegas dengan tempat kami berkumpul di tempat keramat, disana ada palinggih Sang Wengi namun dalam mimpi muncul dalam bentuk pos ronda permanen berbahan beton. Saya tidak tahu makna sebenarnya dari mimpi ini. Namun orang-orang yang hadir dalam mimpi adalah orang yang menjadi jero dasaran atau tapakan dewa. Sehingga bisa dimaknai bahwa yang hadir itu adalah sesuunan (dewata), hal ini diperkuat lagi dengan nama om saya; bapa dewi, artinya mengarah ke Dewa. Kakak saya melambangkan Dewa Hyang Alit yaitu saudara saya yang telah tiada, meninggal kecil, namun menyamar menjadi kakak saya yang masih hidup. Bapak saya (guru) melambangkan Bhatara Hyang Guru, sedangkan guru Nas (om saya) diambil makna katanya yaitu 'Nunas' yang artinya meminta, sering juga diartikan diberi. Kalau disusun bahasa sandinya 'dewa/bhatara hyang Guru ngemaang nunas rerajahan' (Bhatara Hyang Guru memberi anugerah rerajahan). Kata ngemaang saya ambil dari kata tulang jelema (tulang manusia). Rerajahan diambil dari kronologi mimpinya. Kemungkinan rerajahan yang dimaksud yaitu rerajahan untuk melumpuhkan jimat orang (pekakas), sebagaimana dalam obrolan dalam kronologi mimpinya. Mungkinkah pemberian perlindungan diri?

Hal yang menggelikan dari mimpi di atas adalah tata aturan mengambil tulang manusia demikian ribetnya. Mulai dari membuat watangan mayat palsu disertai nyanyian kematian, lalu mencangkul di depan kuburan tiga kali untuk menghindari murka Bhuta kala disertai 'memanjang'; puja untuk bhuta kala. Selain itu, hal lucu lainnya yaitu disuruh mengambil tulang bapak saya tetapi dalam mimpi bapak saya masih hidup. Namanya juga mimpi..Mimpi di atas mimpi paling akhir pada malam yang sama. Masih ada tiga mimpi lainnya yang tak kalah seru. Mimpinya akan saya urutkan, sebagai berikut;

Saya berangkat ke arah timur laut rumah (kaja kangin), berencana mencari pekarangan rumah baru. Tiba di barat rumah nenek saya duduk bersama sepupu saya, bli Jero Komang. Dari kejauhan di rumah nenek saya melihat guru Putu bersama bli Mangku Putu mengatapi rumah nenek saya. 'Kita masih muda sebaiknya jangan sendirian mencari pekarangan rumah, sebaiknya minta tolong sama guru putu. Ayook kita ke rumah nenek dulu minta solusi' ujar sepupu saya. Saya mengiyakannya.

Sampai di rumah nenek disana saya disambut Mejro Putu, tante saya. Saya dianjurkan untuk meminta petunjuk dewa dengan menurunkan sabda dewa (nedunang rawos sesuunan). Tak lama berselang mejro Putu kehilangan keaadaran; trans. Lalu berujar, 'Jerone ngelah tirta di umahe sembarangan pejang di pekarangan. Sepatutne tirta nika malinggih ring kamulan' sabdanya. (Kamu memiliki air suci di rumah ditempatkan sembarangan di pekarangan. Seharusnya air suci itu distanakan di Kamulan). Demikian sabda dewa turun melalui tante saya, lalu tante saya mulai sadar. Lalu saya hendak mengajukan pertanyaan lagi, dan tiba-tiba tante saya berubah jadi nenek-nenek. 'Apa lagi yang harus kami lakukan dewa junjungan kami?' tanya saya.

'Kamu harus mapeluas (meminta petunjuk). Kamu itu sebenarnya kembar buncing' demikian katanya. Saya melihat tante saya mulai mengada-ngada tidak lagi trans. Dalam hati saya menolak kata-kata itu lalu pura-pura tidak mengerti dengan maksudnya.
'Apakah maksudnya paduka bhatara? Hamba belum mengerti' tanya saya.
'Kamu tidak boleh makan daging babi' demikian sabdanya.

Lalu saya sadar dari mimpi, dan merasa heran. Mimpi di atas cukup rumit bagi saya untuk mengartikan. Namun sedikit paham maksudnya bahwa saya hendaknya menempat tirta pada tempatnya. Mimpi itu bermakna buruk dan baik. Mencari pekarangan pertanda tidak baik karena melambangkan mencari tempat tinggal bagi sang roh di alam gaib. Namun hadirnya sepupu saya melambangkan hadirnya Ratu Sakti Hulundanu (di kenyataan sepupu saya menjadi dasaran Ratu Sakti Hulundanu) sehingga ini melambangkan pertolongan dewa dari hal yang tidak baik. Hal ini didukung kronologi melihat guru putu mengatapi rumah nenek, ini pertanda baik. Dalam kenyataan guru putu lahir kembar sehingga ini pertanda ada pertolongan dewa kembar. Kronologi turunnya sabda dewa agak membingungkan bagi saya.

Tak lama berselang, saya berdoa kepada bhatara Hyang Guru agar diberi petunjuk dengan bahasa nimpi yang lebih mudah dan jelas. Lalu saya tidur dan mimpi lagi. Dalam mimpi itu saya berada di di rumah kuno sedang tidur bersama ibu dan adik saya. Lalu saya menyelimuti semua tubuh adik saya agar tidak dilihat ibu. Lalu saya masuk ke dalam selimut dan mencium leher adik saya. Mimpi terputus tanpa terbangun. Lalu mimpi lagi.

Berada di rumah bersama bapak saya (guru), tepatnya di dapur yang retak-retal gara-gara hujan banjir waktu ini. 'Tembok yang retak ini yang cukup parah membuat pekarangan kita leteh (kotor). Sehingga perlu dibuatkan upakara. Tetapi bisa hanya diperciki tirta yang disimpan waktu ini' ujar bapak saya sembari menunjuk tembok yang retak itu.

 Ternyata doa saya dijawab juga oleh-Nya. Ternyata begitu maksud mimpi saya yang ruwet di atas. Ciuman dengan adik saya melambangkan pemalinan. Rumah yang retak ternyata dianggap sama dengan diperbaiki sehingga perlu dibuatkan upacara. Jika tidak dibuatkan ritualnya menjadi pemali. Tetapi karena waktu ini masih menyimpan tirta sisa upacara pemugaran waktu ini sehingga tinggal memerciki tirta pada tembok yang retak hampir jebol. Demikian pula saya juga perciki tirta pada palinggih yang sempat diseruduk longsoran karena apabila tanah longsor memasuki pekarangan membuat rumah kita leteh atau kotor sehingga perlu disucikan lagi.

Kemarinnya sudah sempat saya mimpi yang berkaitan dengan pemali tetapi saya tidak berhasil menemukan pemali yang dimaksud. Dalam mimpi saya berada di timur laut rumah dekat pohon bambu, disana ada bapak saya, adik dan ipar saya sedang tidur-tiduran. Lalu saya ikut tidur-tiduran nylekak di tengah-tengah. Karena semua memejamkan mata, saya diam-diam mencium leher adik saya. Saya terbangun dari mimpi, maknanya tahu pertanda pemalinan; pemalinan suci karena mencium adik yang masih suci tetapi saya tidak berhasil menemukan pemalinan itu. Tiga hari sebelumnya juga sempat mimpi melambangkan pemalinan, kronologi mimpinya sebagai berikut:

Lagi duduk di timur laut tembok rumah (dekat tembok rumah yang retak parah namun dalam mimpi tidak kelihatan retak). Disana saya diajari sesuatu oleh seorang Guru yang pernah menjadi dewan penilai waktu saya ujian di SMK dulu. Selain saya, ada murid lainnya. Guru ini tampak murung. Lalu salah satu murid nyletuk, 'Guru kita tampak murung karena SCT Dewi hamil diluar nikah gara-gara bergaul bebas dengan pacarnya' ujarnya. Kata-kata itu membuat guru itu kaget, terperangah. Wajahnya memerah.

Saya tanyakan makna mimpi itu ke bapak saya, dibilang pemalinan. Baik saya maupun bapak saya tidak tahu pemalinan yang dimaksud. Saya sempat berpikir apakah gara-gara saya pasang paku di tembok waktu ini jadi pemali. Kata bapak saya, tak mungkin itu menjadi pemali. Namun akhirnya tuntas juga dengan mimpi di atas.

Selain mimpi pertama dan kedua di atas, masih ada mimpi lainnya, mimpinya sangat menyeramkan dan menggelikan padahal maksudnya sepele. Kronologinya sebagai berikut;

Malam telah tiba, saya berjalan seorang diri di Jero Kamulan. Saya melihat bayangan hitam lewat. Hal itu membuat saya takut, bulu kuduk merinding. Saya mempercepat langkah kaki. Sampai di pertigaan saya melihat dua orang, laki dan perempuan..'Ada
penakutt..' Teriak orang itu. Dia kira saya itu 'penakut'; mahkluk halus yang suka menakut-nakuti manusia.

'Bukan! Saya loh. Manusia.' Ujarku takut-takut geli, takutnya dilempari batu. Orang itu lalu mengelus dada, seolah merasa bersyukur kalau ternyata yang dilihatnya manusia bukan mahkluk halus. Lalu saya ditendang, bermaksud bercanda.

Saya melanjutkan perjalanan ke arah timur, saya bertemu seorang pemuda. Dia juga mengajak saya bercanda, sepertinya dia juga melihat kejadian barusan. Di dekat pemuda itu ada kolam di tengah jalan, airnya berlumpur. Lalu saya melewatinya.

'Briaakkk' suara air kolam. Saya tercebur ke kolam gara-gara didorong pemuda itu.'Sialan kamu' teriakku. Orang itu malah tertawa terkekeh-kekeh melihat saya basah kuyup. Baju, celana, semua basah. Lalu saya berjalan ke rumah sepupu saya, sepupu dari saudara perempuan bapak saya. Saya kesana di bawahnya hanya memakai celana dalam. Sepupu saya yang cowok tertawa melihat saya. Saya minta ijin untuk tidur disana. Di rumah sepupu saya melihat banyak orang tidur, kamarnya sampai penuh. Tetapi tidak ada yang saya tahu. Hanya saya kenal tidur disana yaitu tante, suaminya, mbok Tut Ranti bersama anak-anaknya yang masih kecil.

Oleh karena kamarnya penuh, saya mencari tempat tidur di luar rumah, di barat laut. Disana saya hendak tidur bersama gede. Ternyata yang saya tiduri bekas Padmasana rusak. Lalu saya bangun hendak memperbaiki bersama gede..Entah apa yang terjadi, timbul kegaduhan. Anak mbok Tut yang cowok masih kecil diganggu mahkluk halus. Lalu saya menggendongnya agar tidak diganggunya. Saya mengejar mahkluk gaib itu, ternyata datangnya dari kuburan sebelah selatan rumahnya (di kenyataan disana ada jembatan bukan kuburan). Tak lama kemudian mahkluk halus datang beramai-ramai, wajahnya seram seperti wajah orang mati bangkit dari kuburan. Secepat kilat mereka menyerang saya yang masih menggendong anak kecil. Lalu saya melantunkan japa mantra, 'Om namah shiwa ya' suaraku lantang berulangkali. Mahkluk halus itu lari berhamburan ke kuburan. Tak lama berselang munculah banyak orang yang tampak bercahaya, seperti dewa-dewi, dan juga leluhur. 'Mereka pasti dewa dan leluhur' pikirku.

Saya berjalan ke arah utara dari kuburan. Di dekat jalan saya melihat ada pohon dan di bawahnya ada palinggih. Di depan pintu tembok panyengker palinggihnya tiba-tiba muncul bayi gundul bercahaya, lalu berubah wujud seperti dewa Shiwa. Saya menghaturkan sembah kepada-Nya. Lalu beliau bersabda, 'Itu ada kendaraan hendaklah dipindahkan karena mengganggu jalan-Ku.' Sabda-Nya sembari menunjuk kendaraan yang ada di samping palinggih itu. Ternyata kendaraan itu milik orang lain bukan milik keluarga saya. Lalu saya menyuruh memindahkan motor itu.

Deg-degan hati saya saat sadar dari mimpi. Di satu sisi timbul perasaan bahagia bisa melihat dewa Shiwa dalam mimpi. Setelah saya merenung sejenak artinya malah sederhana. Motor yang hadir dalam mimpi malah ada di halaman rumah saya. Saya bergegas keluar rumah malam-malam jam setengah empat, memindahkan motornya. Motor itu motor milik orang lain dititip kemarin karena mati. Diparkir dekat palinggih Indra Belaka yang merupakan stana Bhuta Kala sang Indra Belaka; Bhuta Kala perwujudan dewa Shiwa dengan unsur negatif atau perusak. Orang umum menyebutnya bhuta kala, bhuta kala pasukan Tuhan; dewa Shiwa. Di halaman rumah saya memang dilalui jalan niskala (jalan di alam gaib). Kendaraan itu menimbulkan gangguan di alam gaib sehingga menggundang bhuta kala dan menjadi pemali. Pemali dimaknai dari menggendong anak kecil.

Sebelum mimpi seram itu saya sempat kedutan di betis kiri yang menandakan 'maya rauh'; akan hadirnya mahkluk halus jahat. Lalu saya berdoa dalam hati agar terhindar dari hal-hal buruk. Tetapi ternyata maya yang dimaksud datang dalam mimpi.

Saya yakin makna mimpi itu tidak sesederhana itu. Ada beberapa dugaan yang muncul dalam benak saya. Biasanya, kemana roh saya berkelana maka di sekitar tempat itu akan ada peristiwa penting seperti kematian, ada yang sakit parah, bahkan bencana. Atau adakalanya orang yang muncul dalam mimpi akan mengalami musibah. Apalagi dalam mimpi saya tercebur ke kolam berlumpur. Hal ini sebagai pertanda buruk. Bisa jadi hal buruk itu bukan saja ke saya melainkan ke rumah yang saya kunjungi atau tempat yang saya lalui.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts