e-mail: mupu.merta@gmail.com www.kompasiana.com/mertamupu.co.id

Free Think About Everrything

Perjodohan Berdasarkan Nama

Nama yang Tak Terpakai dalam Ilmu Perjodohan

Sebelum melangkah lebih jauh menggali patemuan atau perjodohan berdasarkan nama, kita perlu mengetahui nama-nama yang tidak terpakai. Untuk menghindari kesalahan menggali dan memaknai perjodohan berdasarkan nama, penting untuk diingat dan diketahui bahwa nama yang dipakai dalam perjodoham adalah nama telu bulanan atau nama yang diupacarai. Nama diluar itu tidak terpakai karena nama yang sakral dan memiliki jiwa adalah yang terlahir dari upacara, nama yang terbentuk dari ritual nama smaranam.

Berangkat dari asas tersebut nama yang tidak terhitung atau tidak terpakai dalam ilmu perjodohan yaitu nama alias atau nama panggilan baru, nama keluarga, gelar kebangsawanan, nama urut dan nama gelar keagamaan.

Nama Alias

Seringkali dalam masyarakat nama seseorang diperkenalkan ke masyarakat umum bukan nama telu bulanannya melainkan nama baru yang dibuat atas dasar faktor tertentu. Ada pula sengaja ganti nama tetapi tanpa diupacarai. Nama seperti itu tidak terpakai dalam ilmu perjodohan, kecuali nama baru itu kemudian diupacarai.

Nama Keluarga

Pada era sekarang masyarakat mulai berlomba-lomba menambahkan nama keluarga di belakang nama anaknya. Bahkan ada pula menambahkan nama leluhurnya di depan ataupun di belakang namanya, sehingga nama anak generasi sekarang menjadi panjang.

Nama Kebangsawanan

Dalam tata sosial masyarakat tertentu memiliki nama kebangsawanan, seperti di Bali banyak orang Bali memiliki nama lengkap dengan gelar kebangsawanan, seperti Ida Bagus, Ida Ayu (Dayu), Cokorda, Dewa, Desak, Gusti, Sang, Ngurah, dan lainnya.

Nama Urut

Nama orang Bali juga memiliki ciri khas, dimana nama seseorang lengkap dengan urutan kelahirannya. Nama urut ini kemungkinan lahir dari ajaran Kanda Pat (saudara empat) sehingga nama urut dalam tata kemasyarakatan orang Bali hanya sampai empat. Berikut nama seseorang berdasarkan urutan kelahirannya:

Anak pertama: Wayan (Wayahan atau tertua), Gede, Putu.
Anak kedua: Nengah (di tengah), Made (madianan).
Anak ketiga: Nyoman, Komang.
Anak keempat: Ketut.
Apabila anaknya lebih dari empat maka diulang menjadi Wayan Balik atau Wayan Tagel. Bisa juga bila anak pertama ditambahi kata Wayan maka anak kelima ditambahi kata Putu. Khusus untuk perempuan, nama Luh juga tidak terpakai.

Nama Religi

Selain nama urut, ada juga nama yang dimiliki seseorang berdasarkan gelar keagamaan, seperti Mangku, Jero, dan Balian.

 Kadar Cinta Berdasarkan Nama dan Kelahiran

Menurut kepercayaan masyarakat tradisional, nama dan hari kelahiran seseorang dapat menjelaskan mengapa seseorang bisa mencintai pasangannya, bukan melulu soal takdir. Bila kita hanya meyakini karena adanya takdir, maka pikiran kita terbelenggu pada 'kehendak Tuhan' sehingga kita hanya bisa pasrah. Memang sangat baik apabila mampu menyerahkan diri secara total pada kehendak Ilahi, akan tetapi tak sedikit kita terjebak 'pasrah' namun tidak iklas seutuhnya, dengan kata lain pasrah setengah-setengah. Akibatnya tentu seringkali membuat kita kehilangan keyakinan tentang keberadaan-Nya. Celakanya lagi, tak sedikit orang yang meyakini jodoh sebagai takdir menghabiskan masa mudanya dengan bersenang-senang terkait urusan seks, dengan dalih mungpung muda, aji mungpung. Bahkan terjun ke dalam pergaulan seks bebas. Sesungguhnya hal demikian dapat menghalangi kita bahkan menjauhkan kita dari jodoh yang sebenarnya.

Bila kita cermati ajaran agama, jodoh sebenarnya bukan takdir melainkan karma. Sederhananya kita sebut sebagai nasib, dimana nasib bisa berubah yang disebabkan oleh karma; karma baik (subha karma) ataupun karma buruk (asubha karma), dengan kata lain jodoh merupakan sebagian 'takdir' yang terbentuk dari karma pada kehidupan terdahulu dan sebagiannya lagi ditentukan oleh perbuatan kita sekarang. Oleh karena itu bila seseorang banyak melakukan dosa berkaitan dengan cinta maka dia akan berjodoh dengan orang yang tidak sesuai harapan. Sebaliknya orang yang memuliakan cinta dan berperilaku baik maka ia menemukan pasangan yang baik pula. 'Sebagaimana aku, demikianlah pasanganku', jodoh kita merupakan cerminan dari diri kita. Selanjutnya jodoh yang kita temukan pun akibat faktor nama dan hari kelahiran.

Berdasarkan Nama

Untuk mengetahui keterkaitan nama seseorang yang membuat bisa saling mencintai, terlebih dulu kita pelajari kedudukan aksara sebagai berikut:

Baris I : A/Ha, Na, Ca, Ra, Ka
Baris II : Da, Ta, Sa, Wa, La
Baris III : Pa, Dha, Ja, Ya, Nya
Baris IV : Ma, Ga, Ba, Ta, Nga

Orang yang bisa saling mencintai apabila aksara nama depannya ada pada satu baris. Umpama nama pasangan pria Chandra, pasangan wanita Nina Utami. Aksara Ca dan Na ada pada satu baris sehingga hal ini cukup baik, apalagi aksaranya berdampingan. Umpama nama pasangan pria Juliawan, nama pasangan wanita Yuni Sara. Aksara Ja/ju berdampingan dengan aksara Ya/yu.

Bila berbeda baris maka ada yang lebih sayang, ada yang tidak, hal ini kurang baik. Nama depan dengan aksara baris I mengalahkan baris II, baris II mengalahkan baris III, baris III mengalahkan baris IV, baris IV mengalahkan baris I. Umpama nama pasangan pria Wijaya. Nama pasangan wanita Purnami. Aksara Wa/Wi mengalahkan aksara Pa/Pu sehingga pada pasangan ini istri lebih tunduk pada suami.

Apabila aksara depan 'ngelangkar gunung' atau berlawanan maka hal ini tidak baik; bisa tukaran, bermusuh-musuhan, bahkan berpeluang bercerai meski pada awalnya saling mencintai. Yang dimaksud aksara ngelangkar gunung yaitu aksara baris I dengan baris III, baris II dengan baris IV. Umpama nama pasangan pria Raditya, pasangan wanita Yumi. Aksara Ra dan Ya/Yu berlawanan sehingga pasangan ini cenderung tukaran, sering bertengkar.

Selain perhitungan berdasarkan aksara depan, juga berdasarkan aksara depan, tengah dan aksara belakang. Ketentuannya, apabila terdapat unsur aksara nama pasangan berdampingan maka akan saling menyayangi, siapa yang aksaranya di belakang maka dia akan lebih sayang, terutama abila aksara belakang pasangan berdampingan dengan aksara depan pasangannya. Umpama nama pasangan pria Dhanaswara, nama pasangan wanita Kali Utami. Aksara nama belakang Ra (dhanaswaRA) berdampingan dengan aksara depan KA (KAli). Lihat a, na, ca, RA, Ka. Dalam kasus tersebut Kali lebih sayang pada Dhanaswara. Contoh lain; nama pria Arnata, nama wanita Sri Kumari. Aksara TA (arnaTA) berdampingan dengan aksara SA (Sri). Lihat da, TA, SA, wa, la. Dalam hal ini wanitanya lebih sayang pada pasangan prianya.
Contoh lain berdasarkan aksara nama di belakang berdampingan dengan aksara di tengah. Umpama nama pasangan wanita Murti, nama pasangan pria Widiana; Aksara TA (murTI) berdampingan dengan akasara DA (wiDIana). Pada kasus yang demikian Murti lebih sayang pada Widiana. Di sisi lain pasangan ini bermusuh-musuhan akibat aksara depan Ma (MUrti) dan aksara Wa (WIdiana) berada pada baris yang berlawanan. Lihat tabel baris di atas. Sehingga pasangan seperti itu senang bertengkar tetapi di satu sisi saling mencintai.

Apabila unsur aksaranya tumpang tindih, maka hal ini sangat baik, bisa saling mencintai. Umpama nama pria Karnata, nama wanita Desy. Aksara Da (DEsy) berada di depan aksara Ta (karnaTA). Lihat DA, TA, sa, wa, la. Dalam hal ini Karnata lebih sayang pada Desy. Di satu sisi Desy lebih sayang pada Karnata, karena aksara Sa (deSy) berada di belakang aksara Ta (karnaTa). Lihat da, TA, SA, wa, la. Dalam kasus ini ada tiga aksara yang berdampingan yaitu aksara Da, Ta, Sa. Lihat DA, TA, SA, wa, la.

Oleh sebab itu seseorang seringkali mudah jatuh cinta pada pasangan yang memiliki unsur aksara berdampingan. Umpama bila pria namanya Arta maka nama wanita yang dicintai umpama DIaNA. Aksara A pada Arta berdampingan dengan Na pada Diana. Lihat A, Na, ca, ra, ka. Aksara TA pada arTA berdampingan dengan aksara Da pada DIana. Lihat DA, TA, sa, wa, la. Demikian pula bila Arta disandingkan dengan DEwi, wiDI, liaNA, SAriNI, dsb. Maka akan mudah saling mencintai.

Bersambung.. (akan diulas secara khusus berdasarkan kelahiran).

Temu Sorot, Perjodohan Berdasarkan Makna Nama

Diantara petung perjodohan berdasarkan nama, barangkali perjodohan berdasarkan makna nama jarang dipelajari orang, padahal kehidupan rumah tangga seseorang dapat dibaca melalui gabungan nama pasangan suami-istri sehingga membentuk suatu makna. Dalam tradisi di Bali hal ini disebut temu sorot: perjodohan berdasarkan 'sorot' namanya.

Untuk mengartikan makna nama pasangan suami-istri menggunakan bahasa lokal, bahasa yang biasa digunakan sehari-hari dalam kehidupan keluarga bersangkutan. Dengan kata lain menggunakan bahasa ibunya. Umpamanya orang Bali menggunakan bahasa Bali, orang Jawa menggunakan bahasa Jawa. Meski satu daerah adakalanya juga memiliki sedikit perbedaan bahasa, seperti Bali selatan berbeda sedikit dengan Bali utara. Sehingga untuk memaknai arti nama pasangan suami istri kudu dimaknai sendiri.

Memaknai nama gabungan suami istri bisa dalam bentuk nama Utuh-Pendek, dan huruf nama depan. Lebih jelasnya bisa lihat contoh-contoh di bawah ini:

Nama Utuh-Pendek

Bila nama suami istri digabung berdasarkan namanya secara utuh akan memiliki makna baik, namun seringkali bila makna nama pendeknya dimaknai bermakna buruk. Demikian sebaliknya. Umpamanya nama suami Arta, nama istri Asih. Bila digabungkan menjadi Artane Asih: rejeki mencintainya. Diterjemahkan bebas rejeki datang. Bila nama pendek maknanya artane aas (rejekinya jatuh). Contoh lain; suami namanya Pertas Bagia, isteri Ayu Artini. Makna nama utuh Ayu Bagia (selamat berbahagia). Makna pendek Ayu Tas-tasa (yang baik dirabas). Nama suami Sukerta, istri namanya Sami Astini. Makna utuh sami sukerta (semua sejahtra), makna pendek sami suker (semua sulit). Bisa juga dimaknai Suker Aas (yang sulit jatuh), sukerta aas (kesejahteraan jatuh atau hilang).

Banyak pula makna nama gabungan suami istri tidak memiliki makna pendek, hanya bisa dimaknai secara utuh. Umpama nama suami Merta, istri Sarini. Makna utuh mertane mesari (kekayaannya awet). Bisa juga dimaknai Sarin Merta (intinya kekakayaan atau rejeki). Contoh lain; suami bernama Artawan, istri nama Sugiani. Maknanya Sugih Arta (harta berlimpah). Bisa juga dimaknai Ani/Ana arta (ada harta). Nama suami Kecen Merta, nama istri Widiani. Maknanya ana widi ngicenin merta (ada Tuhan melimpahkan kekayaan).

Adakalanya nama seseorang terlihat baik ketika digabungkan bisa bermakna buruk. Umpama nama suami Widiana, nama istri Luh Muli. Maknanya widi mulih (Tuhan pergi atau Tuhan meninggalkannya). Nama suami Sudana, nama istri Larasati. Maknanya dana lara atau lara dana (menderita dalam hal harta).

Huruf Depan

Banyak sekali nama pasangan suami istri tidak bisa digabungkan atau bila digabungkan tidak ada maknanya. Hal seperti itu dimaknai dengan mengambil huruf atau aksara nama depan pasangan suami istri. Contohnya sebagai berikut: nama suami Lanang, nama istri Luh Sisan. Aksara yang diambil yaitu La dan Si. Bila digabungkan menjadi Lasi yang artinya kambuh. Bila bercocok tanam sering gagal panen karena lasi atau ngelasinin. Kalau sakit sering kambuh sakitnya. Kata La dan Si juga bisa bermakna Sila atau duduk bersila. Agar mudah rejekinya carilah pekerjaan duduk seperti kerja kantoran. Jualan di tempat kios atau pasar, dimana saat jualan dengan cara duduk, bukan jalan berkeliling.

Contoh lain; nama suami Lanus, nama istri Sumiarti. Bila digabungkan menjadi Sula yang artinya perut kembung. Hal ini melambangkan pasangan ini sering membuat pasangannya marah, diumpamakan perut kembung. Kata itu juga bisa dimaknai Lan Su atau Laan pesu yang artinya silakan keluar. Hal ini mengisyaratkan dalam mencari harta dengan berpergian keluar atau berkeliling, seperti jualan keliling, kirim barang keluar daerah, dan lain sebagainya.

Dapat pula huruf nama seseorang hanya satu huruf di depan diambil. Umpamanya, nama suami Orta Ariawan, nama istri Gampil. Bila digabung menjadi O-Ga. Oga artinya tergores pisau atau sabit. Hal ter sebut melambangkan pasangan ini sering sakit, baik sakit raga maupun sakit pikiran.

Seringkali makna nama pasangan langsung berisi penudaannya atau penolaknya. Umpamanya pasangan dengan aksara depan Sa dan Wa: SAni Asih - WArdana Putra, Wati - Sandiasa, Dlsb. Bila digabungkan artinya Sawa (mayat), dimaknai kematian. Kalau dibalik menjadi Wasa (Tuhan). Jadi, untuk mencegah hal-hal buruk atau penderitaan pada pasangan ini hendaknya taat berbhakti kepada Tuhan. Contoh lain dengan aksara depan Pa dan Ta. Pata ngaran pati, pati ngaran mati. Umpama nama suami Pandu Widnyana, nama istri Tasya Ariningsih. Untuk menghendari hal yang tak diinginkan bagi pasangan ini hendaknya berusaha mengendalikan pikiran atau Tapa, kebalikan dari Pata.

Dalam mencari jodoh berdasarkan temu sorot, ada dua hal yang sangat ditekankan untuk dihindari yaitu gabungan nama suami istri yang memiliki aksara Ma dan Ta. Bila digabungkan menjadi Mata, mata ngaran mati. Dan juga aksara La dan Ra, yang artinya Lara. Lara ngaran sengsara. Ada juga yang menyarankan menghindari pasangan dengan aksara depan Ma dan La, yang artinya Mala atau kotor.

Unsur aksara Ma dan Ta maupun aksara La dan Ra pada pasangan suami istri, tidak hanya pada bagian aksara depan, tetapi juga pada aksara tengah ataupun belakang. Contoh; nama suami MAndiasa, nama istri ParwaTI. Bila digabung aksara nama depan suami dan aksara nama belakang istri menjadi Mati. Pasangan seperti ini akan meninggal salah satu sebelum waktunya. Mati tidak hanya dimaknai mati raganya tetapi juga mati hartanya atau miskin.

 Perjodohan Sastra Tunggal Sebaiknya Dihindari

Dalam ilmu perjodohan berdasarkan nama dikenal yang namanya temu 'sastra tunggal', dimana aksara atau huruf nama pasangan suami-istri memiliki aksara yang sama, baik aksara atau huruf nama di depan, tengah maupun di belakang. Secara umum perjodohan sastra tunggal dipandang tidak baik sehingga cenderung dihindari. Sebenarnya tidak semuanya buruk, hanya sastra tunggal tertentu yang seharusnya dihindari yaitu sastra tunggal biasa, sastra tunggal cicing enjek ikuh, dan sastra tunggal maulu suku.

Sastra Tunggal Biasa

Apabila kita lihat jumblah aksara Bali maka terdapat 18 sastra tunggal, sedangkan aksara Jawa terdapat 20 sastra tunggal. Dari keseluruhan aksara itu terdapat beberapa sastra tunggal biasa yang sebaiknya dihindari seperti aksara Na, Ra, Da, Ta, Pa. Umpama istri namanya NAreswari, suami namanya NityaNAnda (sastra tunggal Na). Istri: Luh GauRI, suami: SuRAma Putra (Sastra tunggal Ra). Istri: SuDIani, suami DArpa (sastra tunggal Da). Istri: DarTI, suami: SukarTA (sastra tunggal Ta). Istri: Indrani PUtri, suami: PIsana (sastra tunggal Pa).

Bila pasangan suami istri dengan nama sastra tunggal biasanya sulit hidupnya. Ada yang sakit-sakitan walau mudah mencari rejeki, ada yang sulit cari harta meski jarang sakit, ada yang sering berantem, dan lain sebagainya.

Cicing Enjek Ikuh

Cicing enjek ikuh bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya anjing diinjak ekornya. Itu adalah bahasa kias yang menggambarkan bahwa perjodohan cicing enjek ikuh pertanda bahaya atau kurang baik. Kalau anjing diinjak ekornya pasti menggigit.

Yang dimaksud perjodohan cicing enjek ikuh apabila huruf depan pasangan sama dengan huruf belakang pasangan. Dengan kata lain aksara nama depan dan belakang memiliki aksara yang sama atau tunggal. Umpama suaminya bernama JayadraTA, istrinya bernama TArini (jayadraTA-TAri
ni). Contoh lain; Nama suami: Nareswara, nama istri: Sudiani (SudiaNI-NAreswara). Nama suami: Sudarma, nama istri: Ari Yasa (yaSA-SUdarma). Nama suami: Karma Dinata, nama istri: Sukri (SuKRI-KArma). Nb; dalam ejaan aksara, kata KRI bila dibawa ke dasar aksara menjadi KA).

Hal di atas juga berlaku untuk nama lengkap. Umpamanya suami bernama Adi Sukrawan, nama istri Ginarsi (ginarSI-SUkrawan). Suami: Yoginanda Putra, Istri: Ayu Laksmi (aYU-YOginanda).

Perjodohan cicing enjek ikuh dimaknai cepat kaya cepat mati. Artinya, kalau pasangan perjodohan ini mudah mencari rejeki maka akan cepat meninggal salah satu, barangkali belum memiliki cucu sudah meninggal. Bisa juga dimaknai cepat naik cepat turun, gampang melejit gampang jatuh. Apabila hidupnya datar-datar saja atau sedang, akan lama hidupnya. Bisa juga hidupnya sehat-sehat saja namun sulit mencari rejeki. Dapat pula gampang mencari rejeki namun sakit-sakitan atau tidak memiliki keturunan. Dengan kata lain, perjodohan ini selalu diiringi suka dukanya, derita dan bahagianya seimbang.

Maulu Suku

Dalam menulis aksara ada namanya 'Ulu' bunyinya i, ditulis di atas aksara pokok. Bila suatu aksara diisi ulu maka berbunyi i. Umpamanya aksara Ja diisi ulu bunyinya menjadi Ji. Demikian pula dengan Suku, bila suatu aksara diisi Suku maka bunyinya U, ditulis di bawah aksara pokok. Umpama aksara Ra diisi suku maka akan berbunyi Ru.

Apabila nama pasangan suami istri dengan sastra tunggal maulu suku dimaknai akan cepat berpisah atau bercerai, baik cerai hidup maupun cerai mati, mati salah satu sebelum waktunya. Paling sederhana dalam rumah tangganya sering bertengkar atau tukaran apabila bisa bertahan lama dalam berumah tangga. Berikut contoh sastra tunggal maulu suku:

Umpama nama suami Sudarta, nama istri Sintya Dewi (SUdarta-SIntya). Suami: Basudewa, istri: Darsini (baSUdewa-darSIni). Suami; Sudana Putra, istri: Simpen Sari (SUdana-SImpen). Suami: Darma Suta, Istri: Parmi Asih (SUta-aSIh).

 Perjodohan Berdasarkan Huruf Depan

Diantara petung perjodohan berdasarkan nama, tampaknya menghitung perjodohan dengan neptu aksara atau huruf depan pasangan paling mudah dipahami, mengingat aksara depan seseorang hanya satu dan sudah pasti. Aksara yang digunakan pada perhitungan ini menggunakan aksara Jawa yang jumblahnya 20. Neptu atau nilai angka masing-masing aksara sebagai berikut:

Ha/A : 10 , Pa : 8
Na : 2 , Dha : 6
Ca : 3 , Ja : 3
Ra : 8 , Ya : 10
Ka : 8 , Nya : 6

Da : 4 , Ma : 4
Ta : 4 , Ga : 6
Sa : 12 , Ba : 2
Wa : 6 , Tha : 6
La : 6 , Nga : 6

Cara menghitungnya dengan menjumblahkan neptu aksara depan kedua pasangan; pria dan wanita. Hasil penjumblahannya dibagi 5 atau dikurangi 5, dan kelipatannya. Lalu lihat sisa berapa.

Umpama;
Nama pasangan pria Dhrestarastra Putra, aksara depan yaitu Dha, neptunya 6.
Nama pasangan wanita Gandari Maheswari, aksara depan yaitu Ga, neptunya 6. Jumblah neptunya 6+6= 12:5= 2, sisa 2. Bila dengan pengurangan kelipatan 5 yaitu; 12-10= 2, artinya sisa 2 yaitu jatuh pada Lungguh.

Makna masing-masing sisa perhitungan penjumblahan neptu aksara depan pasangan sebagai berikut, bila bersisa:

1. Shri ; banyak rejekinya.
2. Lungguh ; dihormati orang, mendapat kedudukan atau jabatan.
3. Gedong ; bisa kaya, mudah mencari harta.
4. Lara ; melarat, mendapat kesengsaraan.
5. Pati ; mati, mendapat kematian. Makna mati tidak selalu mati raganya ataupun sakit-sakitan. Bisa juga dimaknai mati rejekinya atau miskin. Bila rejekinya baik kemungkinan akan sakit-sakitan dan sebaliknya.

*Disarikan dari sumber internet yang bersumberkan pada buku Primbon Jawa.

 Perjodohan Berdasarkan Huruf Belakang

Dibandingkan perjodohan berdasarkan huruf depan, perjodohan dengan huruf belakang lebih sulit bagi masyarakat awam. Seringkali seseorang salah dalam mencari aksara dasar pada huruf belakangnya. Umpama namanya Supatra. Acap kali aksara dasar huruf belakang yang dicari yaitu Ra, padahal yang benar adalah aksara Ta. Sedangkan bila nama Supatra ditulis atau dieja Supatera, maka aksara yang dihitung yaitu Ra. Demikian pula bila namanya Sukri, maka yang termasuk aksara belakang yaitu Ka, bukan Ra/Ri. Bilamana dieja Sukeri maka aksara yang dihitung yaitu aksara Ra/Ri.

Contoh lain, namanya Anugrah. Aksara belakang yaitu Ga, bukan Ra maupun H/Ha. Bila ditulis atau dieja Anugraha, aksara belakang yaitu Ha/A. Seandainya ditulis Anugerah, maka aksara belakangnya Ra. Demikian pula nama Satia/Satya. Aksara belakangnya Ta, bukan Ya ataupun A. Bila ditulis dan dieja Satiya barulah aksara belakangnya Ya. Mencari aksara dasar atau pokok seperti itu akan mudah dipahami bila tahu 'anggah-ungguhing' menulis aksara Bali ataupun aksara Jawa.

Aksara yang digunakan pada petung perjodohan ini adalah aksara Bali yang jumblahnya 18. Neptu aksara sebagai berikut:
Baris I > A/ha : 1, Na : 2, Ca : 3, Ra : 4, Ka : 5.
Baris II > Da : 1, Ta : 2, Sa : 3, Wa : 4, La : 5.
Baris III > Ma : 1, Ga : 2, Ba : 3, Nga : 4, Pa : 5.
Baris IV > Ja : 1, Ya : 2, Nya : 3.

Cara menghitungnya dengan menjumblahkan neptu aksara belakang, lalu dikurang 5 bila jumblahnya lebih dari 5. Umpama nama pasangan pria Sudana. Aksara belakang yaitu Na, neptunya 2. Nama pasangan wanita Putri. Aksara belakang Ta, neptunya 2. Jumblah 2+2= 4, artinya sisa 4: Lara. Bila sisa:

1. Peta : cerewet, tukaran, sering bersilang pendapat hal baik maupun hal yang tak patut.
2. Pati : mati, sakit-sakitan, salah satu meninggal tidak pada waktunya, bisa juga bermakna mati rejekinya bila bisa hidup sehat dan panjang umur.
3. Gedong : bisa kaya, mudah mencari harta.
4. Lara : hidup melarat, sengsara, sakit-sakitan.
5. Sri : mengalir rejekinya, gampang mencari penghidupan.

*Disarikan dari catatan bapak saya, diturunkan dari generasi terdahulu.

 Perjodohan Berdasarkan Gabungan Neptu Huruf Depan dan Belakang

Aksara depan dan belakang pada nama seseorang memiliki arti tersendiri, hal itu terjadi kemungkinan karena nada suara yang keluar dari mulut kita memiliki tekanan berbeda pada aksara depan dan belakang apabila menyebut nama seseorang. Oleh karena itu aksara depan maupun belakang diutamakan dalam mencari makna nama, khususnya dalam ilmu perjodohan.

Untuk mencari makna dan arti perjodohan berdasarkan gabungan aksara depan dan belakang dari nama inti menggunakan aksara 18 dengan urutan yang berbeda dari biasanya. Urutan dan neptunya sebagai berikut:

A/Ha: 1
Na : 2
Ca : 3
Ra : 4
Ka : 5
Pa : 6
Da : 7
Ja : 8
Ya : 9
Nya : 19
Ma : 11
Ga : 12
Sa : 13
Wa : 14
La : 15
Ta : 16
Nga : 17
Ba : 18

Cara menghitungnya dengan mengambil aksara depan dan belakang  pasangan pria dan wanita. Jumblahkan neptu aksara depan dan belakang kedua pasangan, lalu dibagi 16, atau dikurangi 16, dan kelipatannya. Kemudian lihat sisanya berapa.

Umpama:
Nama pasangan pria Mahendradatta, aksara yang diambil yaitu Ma dan Ta (MAhendradatTA). Neptunya 11+16= 27.
Nama istri Yunisa, aksara yang diambil Ya dan Sa (YUniSA). Neptunya 9+13= 22. Lalu jumblah neptu kedua pasangan dijumblahkan, 27+22= 49:16= 3, sisa 1 : Suka duka, baik buruk.

Hasil sisa perhitungannya hampir sama dengan perjodohan Lontar Tri Pramana. Teks aslinya berbahasa Bali saya terjemahkan bebas. Di bawah ini makna hasil perhitungannya. Bila sisa:

1. Suka-duka, baik buruk.
2. Hidup sengsara, miskin
3. Sering menderita, sering bertengkar (doyan wirang).
4. Anaknya meninggal
5. Sangat baik, lunas lanus sada nulus, hidup rukun dan bahagia.
6. Kesakitan, hidup merana
7. Sedang; suka duka, lambat laun hidup bahagia.
8. Kelaraan, Leyak galak memusuhi; anak sering sakit.
9. Sangat buruk, baya pati,sering berebut atau bertengkar.
10. Lumayan baik, memiliki sifat-sifat kepemimpinan, paling rendah menjadi kepala lingkungan.
11. Cukup harta, bijaksana, penghidupan baik.
12. Baik, lambat laut bisa berharta, rukun berkeluarga.
13. Tidak kurang harta benda, gampang mencari harta; gedong simpen.
14. Kurang baik, tidak tercapai apa yang dicita-citakan, sering ngambul karena merasa menderita.
15. Tidak memiliki keturunan.
16. Mendapat kedudukan, mendapat kebahagian, manggih ledang.

 Selain menghitung gabungan neptu aksara depan dan belakang pasangan, juga terdapat metode menghitung neptu aksara depan dan belakang pasangan secara terpisah, lalu disandingkan. Neptu aksaranya sebagai berikut:

A/Ha, Wa, La = 1
Ga, Ka = 2
Dha, Na = 3
Ba, Da, Ma = 4
Ca, Ya = 5
Ja = 6
Pa, Ra, Ta = 7
Sa, Tha = 9
Nga, Nya = 10

Ambil neptu aksara atau huruf depan dan belakang dari nama inti pasangan. Nama belakang atau nama pelengkap tidak terhitung. Jumblahkan masing-masing neptu aksara depan dan belakang dari nama inti, kemudian dibagi 9. Lalu lihat jumblah neptu laki-laki sisa berapa, dan perempuan sisa berapa.

Umpama:
Nama pasangan pria Widnya: Wa/Wi= 1, Nya= 10. Jumblah 1+10= 11:9 = 1, sisa 2.
Nama pasangan wanita Sutarmi: Sa/Su= 9, Mi/Ma= 4. Jumblah 9+4= 13:9=1, sisa 4. Jadi, perjodohan pasangan Widnya dan Sutarmi adalah Sisa 2 dan 4 : Baik.

Di bawah ini baik-buruk perjodohan pasangan berdasarkan aksara depan dan belakang kedua pasangan. Jika bersisa:

1 dan 1 : Baik
1 dan 2 : Baik
1 dan 3 : Tukaran
1 dan 4 : Putus
1 dan 5 : Putus
1 dan 6 : Putus
1 dan 7 : Jadi musuh
1 dan 8 : Pati (mati)
1 dan 9 : Jadi kepala, prajuru, pejabat
2 dan 2 : Baik
2 dan 3 : Pati
2 dan 4 : Baik
2 dan 5 : Putus
2 dan 6 : Tak baik
2 dan 7 : Putus tak putus, sering bercerai
2 dan 8 : Awet, tak putus, malas
2 dan 9 : Baik
3 dan 3 : Patah (berpisah), cerai setelah tua
3 dan 4 : Tak jadi atau tak boleh, sering bercerai
3 dan 5 : Putus
3 dan 6 : Baik
3 dan 7 : Celaka
3 dan 8 : Putus
3 dan 9 : Baik
4 dan 4 : Jahat
4 dan 5 : Putus
4 dan 6 : Putus
4 dan 7 : Jadi musuh, tukaran
4 dan 8 : Jadi musuh
4 dan 9 : Kurang baik
5 dan 5 : Bahaya, mengalah
5 dan 6 : Putus
5 dan 7 : Putus
5 dan 8 : Putus
5 dan 9 : Baik
6 dan 6 : Tak baik, tetapi tak putus, kurang baik
6 dan 7 : Baik
6 dan 8 : Baik
6 dan 9 : Putus
7 dan 7 : Baik
7 dan 8 : Baik
7 dan 9 : Jahat
8 dan 8 : Baik
8 dan 9 : Kaya anak, tetapi banyak meninggal
9 dan 9 : Putus tak putus, cerai tetapi kembali.

*Disarikan dari buku catatan bapak saya dan buku saku PERHITUNGAN BAIK BURUKNYA ORANG BERSUAMI ISTRI karya Wayan Simpen AB.

0 Komentar:

Opini Pilihan

Mencari Tulang Manusia ke Kuburan

Ada perintah dari seseorang kepada saya untuk mencari tulang guru (bapak saya) ke kuburan. Saya mulai perjalanan dari pemagpagan (tempat me...

Opini Terbaru

Kategori

Arsip Blog

Popular Posts